Unik! Inilah 11 Prosesi Pernikahan Adat Lampung

By | 27/10/2020

Pernikahan merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh sepasang insan manusia. Sebab, dengan menikah, ikatan antara laki-laki dan perempuan akan lebih kuat, baik secara agam maupun tradisi.

Salah satu tradisi pernikahan di Indonesia, adalah pernikahan adat Lampung. Dalam pernikahan berdasarkan budaya Lampung ini, ada beberapa macam prosesi.

Berikut adalah acara-acara yang dilangsungkan selama pernikahan adat Lampung. Yuk, dibaca.

Prosesi Pernikahan Adat Lampung

1. Nindai (Nyubuk)

Prosesi pernikahan adat Lampung, dibuka dengan Nindai. Pada tahap ini, orang tua calon pengantin laki-laki akan menilai perempuan yang dipilih oleh putranya sebagai calon istri.

Umumnya, tradisi ini dilakukan dengan cangget pilangan, yakni kedua calon pengantin memakai busana adat. Lalu, keluarga pihak pria akan mengutus seseorang untuk nindai calon penganti perempuan di balai adat.

2. Nunang (Melamar)

Setelah berhasil melakukan Nindai, maka akan diikuti acara Nunang. Umumnya, orang tua akan memilih hari yang baik untuk melamar si gadis. Pihak keluarga laki-laki akan membawa beragam barang saat berkunjung, seperti makanan, dodol, kue, alat merokok, dan sirih pinang. Barang-barang tersebut dibawa sesuai jumlah yang disepakati dan sesuai kemapuan calon pengantin laki-laki.

3. Nyirok (Ngikat)

Prosesi Nyirok umumnya dilakukan berbarengan dengan acara Nunang. Biasanya, calon pengantin laki-laki emas berlian dan kain jung sarat untuk mengikat calon pengantin perempuan.

Lalu, orang tua calon pengantin pria akan mengikatkan benang lutan 3 warna, yakni hitam, putih, dan merah ke pinggang calon pengantin perempuan. Dengan pengikatan benang sepanjang 1 meter ini, diharapkan kedua calon pengantin ini bisa berjodoh dan dihindarkan dari segala macam halangan.

4. Berunding (Menjeu)

Seusai rangkaian acara lamaran dilaksanakan, maka pihak keluarga laki-laki akan mengutus seseorang untuk merundingkan tentang mas kawin, uang jujur, prosesi pernikahan, serta waktu dan tempat dilaksanakannya pernikahan. Dalam kesempatan ini, sang utusan juga tak lupa akan membawa dudul cumbi yang akan diberikan kepada keluarga pihak perempuan.

5. Sesimburan (Dimandikan)

Prosesi Sesimburan dilakukan untuk mensucikan diri sebelum hari pernikahan. Umumnya, prosesi ini dilaksanakan dengan arak-arakan di sungai ataupun sumur.

Bagi calon pengantin perempuan, akan dipayungi payung gober selama arak-arakan ini, sambil diiringi tetabuhan atau musik tradisional, serta tali lunik. Uniknya, para ibu dan gadis akan ikut mandi bersama dan saling simbur satu sama lain.

6. Betanges (Mandi Uap)

Ritual Betanges dilakukan oleh calon pengantin perempuan supaya tubuhnya lebih segar dan wangi. Tak hanya itu, upacara ini juga dimaksudkan agar nantinya saat di pesta pernikahan, badan mempelai perempuan tidak banyak mengeluarkan keringat.

Uap yang digunakan ini, bukan sembarag uap, melainkan dari rempah-rempah wangi yang direbus dan ditaruh di bawah kursi, yang diduduki calon pengantin perempuan. Umumnya, prosesi ini dilakukan antara 15-25 menit, di mana calon pengantin perempuan akan dikurung dalam tikar pandan, yang bagian atasnya ditutup kain atu tampah. Sehingga upa tersebut akan menyebar ke semua area tubuh.

7. Berparas

Pada prosesi ini, dilakukan proses mempercantik wajah calon mempelai perempuan. Bulu-bulu halus akan dihilangkan, alis dibentuk, dan akan diikuti pemasangan pacar pada kuku calon pengantin perempuan pada malam harinya.

8. Upacara Adat

Sesuai kesepakatan sebelumnya, akan diadakan beberapa macam upacara adat di kediaman calon mempelai perempuan. Umumnya, upacara tersebut terdiri dari Cangget Pilangan, Maro Nanggep, dan Temu di Pecagh Aji yang dilaksanakan selama 2 malam.

9. Upacara Akad Nikah

Dalam adat Lampung, lazimnya acara akad nikah dilakukan di kediaman calon pengantin laki-laki. Namun, seiring perkembangan jaman, ada juga yag mengadakannya di rumah calon pengantin perempuan.

Seusai prosesi akad, maka kedua pengantin akan melakukan sungkeman kepada kedua pasang orang tua, serta bersembah sujud pula di hadapan para tetua.

10. Ngurukken Majeu (Ngekuruk)

Setelah prosesi akad, maka pengantin perempuan akan dibawa ke kediaman pengantin pria sambil menaiki rato. Rato sendiri merupakan sejenis kereta roda 4 dan jeponan atau tandu.

Mempelai laki-laki duduk di depan istrinya, sambil memegang tombak. Pengantin laki-laki memegang ujung mata tombak, yang digantungi kendi berkepala dua dan kelapa tumbuh. Sementara, pengantin perempuan sisi belakang tombak, yang digantung labayan putih atau seluluyan. Setelah itu, keduanya akan berjalan dengan pelan dengan iring-iringan musik tradisional talo balak, dengan mengambil judul sanak mewang diejan.

Gantungan kendi tersebut memiliki makna hati yang dingin dan setia selama di dunia hingga akhirat. Sementara, kelapa tumbuh dimaksudkan sebagai umur yang panjang dan segera mendapat momongan. Sedangkan labayan, disimbolkan supaya kedua mempelai membangun rumah tangga yang penuh harmonis.

11. Tabuhan Talo Balak

Proses yang terakhir ini, diadakan di kediaman pengantin laki-laki. Setelah kedua pengantin tiba, langsung disambut dengan tabuhan talo balak dengan irama girang-girang. Suara tembakan meriam, umumnya juga akan menyambut kedatangan pengantin baru ini.

Dalam kesempatan ini, orang tua dan para kerabat akan ikut menyambut. Kemudian, sang ibu akan menaburkan beras, kunyit, yang dicampur dengan uang logam.

Pengantin perempuan lalu akan mencelupkan kakinya dalam pasu, yakni wadah yang dibuat dari tanah liat, dengan alas talam kuningan, berisi air, anak pisang batu, bunga titew, daun cocor bebek, serta bunga tujuh rupa. Beragamnya isian ini sebagai simbol keselamatan, hati dingin, dan keberhasilan dalam membangun rumah tangga.

Selanjutnya, kedua pengantin akan naik ke rumah, dengan dibimbing oleh mertua perempuan. Keduanya akan didudukkan di atas kasur usut, yang ditaruh di depan kebik temen atau appai pareppu, yang menjadi kamar tidur utama.

Keduanya lalu dipersilakan duduk bersila, di mana lutu kiri pengantin pria akan menindih lutut pengantin perempuan. Hal ini menyimbolkan supaya sang istri nantinya akan patuh dan berbakti kepada suami.

***

Demikianlah informasi tentang prosesi pernikahan adat lampung. Berikutnya, kenali juga adat dan budaya bangsa Indonesia lainnya, sepertiĀ Tari Kipas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *